2 views

Cari Jodoh via Dunia Maya: Malah Ketemu Calon Suami

Sejak awal, Hana tak punya ekspektasi tinggi saat mencoba aplikasi Tinder. Menurut dia, hubungan secara tatap muka punya peluang keberhasilan lebih tinggi daripada pertemanan di dunia maya. ”Awalnya ya cuma cari distraksi dan karena nggak pede kenalan langsung,” ucap perempuan asal Gresik itu.

Selama empat tahun menggunakan aplikasi Tinder, perempuan yang enggan menyebutkan nama lengkapnya itu mendapat kecocokan dari 100 pria. Ada yang benar-benar kepo dan mau berteman, ada juga yang mengajak berhubungan one night stand. ”Ada yang frontal ’mau hookup nggak?’, ada juga yang mengarah-mengarah gitu,” tuturnya.

Jika sudah begitu, Hana lebih memilih untuk langsung menolak. ”Karena sejak awal kan mau cari teman saja, bukan aneh-aneh,” ujarnya. Jika dalam perkenalan pertama itu ada kecocokan, Hana berani bertukar nama akun di salah satu aplikasi percakapan. Dia masih menjaga privasi dengan tak langsung memberikan nomor ponselnya. Tahap selanjutnya, baru bertemu untuk ngopi-ngopi cantik. Sejauh ini, Hana sudah bertukar kontak LINE dengan nyaris 30 orang dan bertemu 10 orang.

Pengalaman tidak enak, menurut Hana, bukan penipuan atau kehilangan materi. ”Menurut aku paling nggak enak itu ya di-ghosting,” jawabnya, kemudian tertawa. Maksudnya, saat lawan bicara tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Paling membekas, Hana baru saja bertemu untuk diberi oleh-oleh dari luar negeri. Eh, besoknya si doi hilang tanpa kabar. Selain itu, beberapa orang berbohong tentang status hubungan romantis mereka. Mengaku jomblo, tapi nyatanya sudah tahunan pacaran.

Beda lagi cerita Yenni Sampoerno. Setelah belasan tahun membesarkan tiga anak tanpa suami, Yenni ingin kembali merasakan kehidupan dengan pasangan. ”Umurku saat itu sudah di atas 45 tahun. Jadi, lebih memilih mencoba di situs kencan,” katanya. Kali ini dia ingin mencari pasangan dari luar negeri.

Yenni pun mendaftar di berbagai situs kencan. Mulai Indonesian Cupid, International Cupid, Asian Dating Site, sampai Badoo. Lima tahun terjun di dunia per-dating-an online, perempuan kelahiran Kediri itu dekat dengan tiga pria dari negara yang berbeda. Mulai Italia, Belanda, sampai Australia.

Ketika di Bali, dia bertemu dengan perempuan yang menyarankan untuk mencari pasangan dari New Zealand. ’’Katanya orang sana itu family man,” ceritanya. Masalahnya, saat itu dia sudah putus asa dan berencana untuk menutup semua akunnya. Namanya juga takdir, pada momen terbawah itu, dia mendapatkan kejutan. ”Semua akun di dating site udah mau aku tutup karena kayak nggak ada yang cocok dan serius. Eh, kok di akun International Cupid ada yang say hi,” ceritanya. Saat dia melihat kebangsaan pria terakhir itu, tertulis New Zealand di sana.

Perempuan berzodiak Scorpio tersebut teringat perkataan perempuan yang pernah ditemuinya di Bali dulu. Akhirnya dia mencoba untuk membuka diri lagi. Setelah menjalin hubungan enam bulan, dia pun menemukan pelabuhan terakhirnya tersebut. ”Yang lucunya lagi, dia itu ternyata baru cobain dating site ya itu. Bener-bener pertama kali. Terus dia bilang kalau aku menemukanmu tidak sampai 24 jam,” ceritanya, lantas tertawa.

Ditunggui di Bandara, Ternyata Penipuan

Perjalanan Yenni Sampoerno mencari jodoh tak mulus. Pernah ketika dekat dengan orang yang mengaku berasal dari UK, dia nyaris ditipu. Ceritanya, lelaki itu mengaku ingin ke Indonesia. Tapi, tiketnya hanya sampai Jakarta. Karena itu, Yenni harus menjemputnya di Jakarta dan menyiapkan hotel serta segala kebutuhan lain selama lelaki tersebut berada di Indonesia.

Yenni tak berpikir negatif karena terlalu bersemangat bertemu dengan orang yang selama ini dekat dengan dirinya di dunia maya. Saat di bandara, dia mendapat telepon. ”Ngakunyaorang imigrasi yang ada di bandara. Dia bertanya apa aku kenal sama orang yang akan ditemuinya. Soalnya dia ditahan karena membawa uang cash dalam jumlah besar,” ceritanya. Yenni harus membayar tebusan Rp 3 juta agar orang tersebut dibebaskan.

Untung, Yenni merasa ada yang aneh. Dia lantas bertanya kepada petugas bandara. Rupanya pesawat yang disebut lelaki itu tak pernah mendarat di Jakarta. ”Akhirnya aku menelepon kedutaan mereka,’’ ceritanya. Pihak kedutaan menyebut tidak ada orang yang dimaksud dan menyarankannya berhati-hati. Ternyata, kasus tersebut sering terjadi.

Pengalaman negatif juga pernah dirasakan perempuan asal Surabaya lainnya, Chelsea Andrea. Perempuan 23 tahun tersebut menjajal dunia aplikasi dating sejak dirinya duduk di bangku SMA. ”Awalnya aku pilih aplikasi yang emang cuma bisa ngenalin sama bule. Soalnya aku pengin bisa ngomong sama mereka. Bukan untuk hal-hal serius,” terangnya.

Ilustrasi saat berinteraksi dengan aplikasi online dating.

Berbagai macam aplikasi sudah pernah dijajalnya. Namun, setelah mencoba ribuan swipe right dan menemukan ratusan match, Chelsea mengatakan bahwa sebagian besar orang yang ada di aplikasi dating hanya main-main. ”Kalau yang orang bule rata-rata mereka itu sering mengajak video call yang tiba-tiba nunjukin hal-hal ’begitu’. Kalau yang orang Indonesia, mainnya lebih halus,” terangnya.

Dia bercerita, sepanjang pengalamannya, awalnya mereka akan meminta foto selfie. ”Eh kalau tali BH kita kelihatan dikit, dia bakal minta tambah yang aneh-aneh. Pokoknya chat-nya yang mengajak ke arah seks,” sambungnya. Tentu saja, dia langsung menolak. Hal lain yang pernah dialaminya adalah mendapat ajakan menjadi FWB (friends with benefit) sampai one night stand.

Waspadai Fenomena Hiperpersonal

Online dating memang bikin penasaran, tapi juga was-was. Dr Rahkman Ardi, peneliti bidang cyber psychology, mengingatkan adanya model hiperpersonal dalam komunikasi secara daring (dalam jaringan). ’’Ada kecenderungan kita melebih-lebihkan imajinasi kita saat berkomunikasi dengan seseorang tanpa tatap muka,’’ jelas lulusan S-3 Universitas Warsawa tersebut.

Model hiperpersonal tersebut merujuk pada jurnal yang dikeluarkan Joseph B. Walther pada 1996. ’’Jadi, dengar suaranya, wah, ganteng ini. Kaya ini,’’ ucapnya, lantas terkekeh-kekeh. Efeknya bisa banyak. Misalnya, hubungan secara online malah sangat mungkin berjalan dengan romantis dalam waktu yang singkat. Hal itu terjadi karena imajinasi kedua pihak dipupuk. Kata-kata manis tanpa melihat gestur secara langsung.

Ardi menyatakan, hiperpersonal tersebut mungkin terjadi pada usia berapa saja. Tak hanya anak muda, tapi juga orang dewasa, bahkan orang tua. Dengan demikian, solusinya adalah memahami hiperpersonal itu. ”Itu hal yang sangat umum terjadi. Jadi, wajar dan harus kita pahami,’’ ucap pria 37 tahun tersebut.

Kesadaran itu bisa dimulai dari pemahaman saat menggunakan gadget. Jangan sampai hanya menguasai cara penggunaannya. Namun, seseorang juga harus mengerti efek yang dibawa gadget. ’’Bahwa ada kelebihan dan kekurangan. Sebab, dia hanya alat, kita yang memakai,’’ tegas pengajar Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tersebut.

Selain itu, Ni Putu Adelia Kesumaningsari SPsi MSc mengingatkan pentingnya kroscek data. Informasi pribadi yang diberikan di dating app sering berupa proyeksi diri ideal yang tidak sepenuhnya benar. Googling bisa jadi salah satu caranya. Dari nama lengkap, seseorang mendapatkan banyak informasi di search engine itu. Atau, bisa juga dengan mengecek media sosial si doi. ’’Lihat frekuensi update-nya, lihat gaya bahasanya,’’ ujar dosen psikologi Universitas Surabaya tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *